Pertanian Sistim Aeroponik Makin Berkembang Di Singapura

Daerah beriklim tropis ternyata bukan halangan untuk memproduksi sayuran sub tropis. Aero Green (AG) contohnya. Perusahaan produsen sayuran asal Singapura ini malah membuka lahan seluas 5,7ha di tengah-tengah kota.

Hasilnya, mereka bisa memanen total sayuran 1 ton per hari atau 22 ton setiap bulannya.

Berlokasi di seberang Sungai Buloh Nature Park, Kranji AG amat populer di Singapura. Mereka mengklaim sebagai perusahaan pertama di Asia yang menggunakan teknologi aeroponik.

Sejak dibuka 1995 sampai 1996, pada 1997 AG telah menguasai pasar premium di sejumlah swalayan besar. Misalnya, NTUC Fair Price sebuah swalayan ngetop di Singapura, rutin meminta produknya. Bila ditotal, pesanan sayurannya mencapai 4ton per tahun.

Produsen berskala besar itu dibangun oleh perusahaan konglomerat asal Malaysia, Sime Darby. Bekeijasama dengan National Institute of Education danNanyang Technological University, proyek AG tersebut menghabiskan dana S$12 sampai juta. Berkembang dengan pesat, perusahaan itu kini tak hanya diorientasikan secara komersial tetapi juga mengarah ke pariwisata dan pendidikan.

aeroponik

Aero Green Hemat air

Di tengah rimba gedung bertingkat dan apartemen kehadiran pertanian sistim aeroponik memang menciptakan nuansa lain. Siapa sangka di negara yang terkenal tak memiliki lahan luas bisa dihasilkan sayuran segar asal daerah beriklim dingin.

Letuce : butterhead, batavia, baby cos, lolla rosa, kailan, caisim, tomat cherry, mentimun jepang adalah ragam sayuran yang diusahakannya. Hasil Panen Pertanian dari  Mitra Usaha Tani tersebut memang banyak diminta oleh konsumen.

Meski terkesan "salah tempat" tetapi sayuran yang dihasilkannya tetap optimal. Lettuce yang normalnya dipanen 90 hari setelah tanam bisa disingkat menjadi 45 hari. Itu semua berkat teknologi aeroponik yang diterapkannya.

Dengan alasan serba terbatasnya lahan dan air, cara tersebut memang pas sebagai pilihan. Sayuran itu ditumbuhkan dalam suatu bak besar dengan posisi akar menggantung di udara. Untuk menjaga posisi sayuran, digunakan styrofoam yang dilubangi pada jarak tanam tertentu.

Di bagian dasar bak dilewati pipa yang bekerja menyemprotkan larutan kaya nutrisi langsung ke perakaran tanaman.

Menurut Eng Chiaw Koon, managing director AG, metode ini baik diterapkan di Singapura yang serba terbatas, terutama dalam hal air dan lahan. Dibandingkan cara konvensional, mereka hanya membutuhkan 10% air saat operasional. Dengan kontrol yang baik, pipa itu akan bekerja bersamaan.

Jaringan pipa di bagian bawah tersebut dihubungkan dengan tangki nutrisi. Agar larutan itu sampai ke permukaan akar digunakan spray. Partikel nutrisi dalam bentuk kabut akhirnya bisa diserap oleh akar. Nantinya sisa nutrisi yang jatuh akan mengalir kembali secara resirkulasi ke tangki penampung. Demikian seterusnya.

Temperatur di sekitar perakaran dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan karakterisitik klimat asal tanaman. Jadi kondisi iklim di seputaran akar relatif dingin. Suatu keuntungan besar, yakni kondisi dingin bisa tetap diperoleh lantaran penggunaan proses pengkabutan tersebut.

Aero Green Bebas pestisida

Saat siklus pertumbuhan telah lengkap, sekitar 5 sampai 6 nggu. tray tempat penanaman dipasangi mesin pemanen otomatis. Hasil penelitian Mitra Usaha Tani mengungkapkan Alat tersebut dilengkapi pisau rotasi yang akan memotong lettuce di atas bak pemeliharaan.

Sekeliling greenhouse aeroponik dilapisi net pelindung berbahan nilon. Usaha ini dinilai berhasil mengurangi serangan hama. Lubang net yang amat kecil bisa menghalangi hama yang masuk lewat udara bebas. Dampaknya kecil, kemungkinan tanaman mengalami kegagalan lantaran hama. Tak heran bila salah satu promosi andalan mereka adalah bebas pestisida.

Tak hanya bebas pestisida, AG juga mengklaim produknya lebih kaya nutrisi dan bercitarasa lebih renyah ketimbang sayuran konvensional. Konsumen bisa langsung mengkonsumsinya. Selain itu, umur sayuran dapat lebih lama karena kualitas yang dijaga tersebut. Dengan mutu prima, sejumlah perusahaan dan restoran besar menjadi konsumen setianya.

Setidaknya, sayuran produk AG menjadi salah satu alternatif di tengah gempuran masuknya sayuran impor. Malaysia sebagai saingan utamanya memang terkenal dengan dominasi sayuran yang masuk ke pasaran lokal.

Menurut Eng, mereka punya nilai plus ketimbang sayuran impor, yakni harga 10% lebih murah. Dengan strategi ini mereka berencana mengembangkan usahanya pada 2002. Targetnya tak main-main, produksi 2 sampai 3ton sayuran setiap harinya.

Tak Kalah dengan Singapura Tak hanya Singapura, Indonesia pun kini mulai melirik petanian dengan teknologi aeroponik sebagai alternatif. Pertanian Mitra Usaha Tani adalah pelaku agriculture pionir yang memulainya.

"Perusahaan ini belum ada setahun umurnya," ujar Wulan, staf Amazing Farm (AF). Meski demikian produknya sudah melanglangbuana ke sejumlah pulau besar di Indonesia. Disebutkan, kota-kota di seputaran Jawa, Ujung Pandang, dan Balikpapan telah dirambahnya.

Sambutan konsumen pun cukup baik. Terbukti untuk Balikpapan saja mereka bisa mengirim rutin satu kali dalam seminggu. Lantaran jauh, "Kita mengirimnya dengan pesawat," ujar Wulan.

Ucapan senada juga dijelaskan oleh Daniek Wrestiningsih, asisten pengadaan Pusat Grosir Makro. "Kita bisa menjual 10 bungkus setiap /temnya per hari," kata Daniek. Meski baru berumur 3 bulan, tanggapan konsumen cukup baik. "Paling bagus respon konsumen Makro di Bali dan Bandung," tambahnya.

Luasan kebun pertanian aeroponik yang diusahakan sudah mencapai 5 ha. Jenis sayuran yang diusahakan sekitar 9 macam. Lettuce: butterhead, green leaf, cos, batavia, iceberg, Iola rosa, pakchoy: white dan green, serta horenzo. Dengan lokasi yang tepat di sekitar Lembang, produksi yang dihasilkan bisa tetap optimal.

 



 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 License.